Jumat, 12 April 2013

Dua Puluh Tahun Yang Lalu



Saat senja tiba, dulu …
Ada suatu keharuan yang memcahkan ketakutan.
Saat suara adzan ke empat hari itu, berkumandang
Ada kesucian datang
Layung senja memerah
Mendambakan sang putri cantik datang
Burung berhamburan keluar kandang menanti suara tangis
Dan tibalah sang putri berteriak girang merasakan angin dunia




Duapuluh tahun yang lalu, Ada wanita yang berkeringat, menangis, dan berbahagia di sebuah gubuk kecil berwarna suci

Duapuluh tahun yang lalu, ayah berlari berteriak mengatakan bahwa putri kecilnya kini terdengar tangisnya
Duapuluh tahun yang lalu, wajah sang putri mulai menghiasi hari. Memberikan sentuhan anggun di setiap tidur sang ayah bunda.
Ya, duapuluh tahun yang lalu



Aku yang dulu suci, kini berubah menjadi pelangi. Catatan mulai duapuluh tahun yang lalu, mengubahku menjadi lebih berarti. Duapuluh tahun yang lalu, aku hanya dicintai namun kini aku dapat mencintai

Duapuluh tahun yang lalu, saat pertama kali kudengar suara adzan di telinga sebelah kanan, aku mulai merangkai kehidupan.  Duapuluh tahun sudah aku merasakan pelajaran hidup, merasakan sakit, bahagia, terluka, kecewa, ditinggalkan, dan jatuh cinta. Memiliki teman, sahabat, kekasih yang menjadikanku lebih dari seorang manusia berharga.

Mulai dari duapuluh tahun silam

Aku berkelana mencari jati diri

Menghirup udara bekasi dan menggali ilmu disana, menitikan pola hidup di Kuningan serta membentuk kepribadian, berjuang di Jogjakarta lantas meninggalkan impian di pantai parangtritis, menelusuri indahnya Surabaya dan mengalirkan arus kenangan di bengawan solo. Sampai di angka duapuluh aku terjaga di Jakarta, menacapkan impian untuk terbang, melihat laut yang biru dan menyongsong ke atas awan yang putih

Sampai saat ini, aku tak pernah tau. Berapa tahun lagi aku akan menetap di alam biru ini. Semoga tahun tahun berikutnya sampai aku mendengar dan merasakan panggilan Tuhan, memerintahkan aku untuk kembali pulang. Aku akan senantiasa berbuat kebaikan agar Tuhan tetap menyayangiku dengan lebih menyegerakan doa doa yang aku pinta.




DuaPuluh Tahun yang lalu, adanya aku


Rizky A.Pratama



Senin, 08 April 2013

Ada Fase Dimana Aku Merasakan Kenyamanan ……………..

Menjengkelkan,, Waktu berputar lebih lama

Waktu seolah menuntun dan mengajak ku mengunjungi kehidupan yang abstrak. Dan kamu,orang yang mendorongku dalam keanehan ini. Bertemu orang sepertimu bagaikan mimpi di bawah terik matahari, Konyol.  Bersama dengan mu seperti sengaja membuang waktu di tengah kesibukan penting, Bodoh. Semuanya terasa aneh. Aku tak pernah mengerti, kenapa ada manusia di muka bumi ini se gila kamu. Gila dengan tingkah aneh mu, gila karena kamu seolah olah tau segalanya tentangku. Banyolan banyolan kecil yang menyayat emosiku. Tebar pesona, seakan kamu tertampan seantero bumi ini. Padahal kamu tak lebih dari seorang lelaki so tau yang memiliki keistimewaan, namun aku belum di sadarkan dengan keistimewaan yang kamu punya.

Kesempurnaan yang aku abaikan

Kamu itu orang yang menyebalkan, Angkuh. Mana ada lelaki dengan jarak seratus meter sudah tercium wangi tubuhnya, Hitam rambutnya bagaikan pergi ke salon kecantikan setiap hari. Tinggi dengan berat professional, dikagumi oleh setiap wanita tapi bersikap acuh, cuek seakan tak berhasrat. Tapi yang lebih penting kenapa kamu terus menggangguku dengan celotehan celotehan yang menjatuhkan pamorku sebagai seorang wanita. Kamu itu lebih dari seorang lelaki gila. Dan aku benci dengan kepintaranmu. Rupanya kamu telah memprogram mesin komputer dalam kepalamu. Menyebalkan !!!!!!!!

Dibelai kenyataan yang membingungkan

Pagi, siang, sore lagi dan lagi aku bertemu dengan mu, membosankan. Lelaki sepertimu?? Kamu?? Apakah ada hari dimana kamu tak lagi muncul di penglihatanku. Tak lagi berlari di otakku.  Sehingga aku dapat tenang tanpa manusia gila sepertimu. Tapi,,,,,, kenapa setiap malam hari aku malah bergulat dengan rindu ingin bertemu denganmu. Aku memimpikan lelaki gila itu. Aku mencarimu di setiap sudut ruangan. Aku tersenyum melihat pesan singkatmu. Aku ……………………………………. Fase ini aneh. Aku benci kamu yang bisa mengalihkan pikiranku dengan seluruh bayangmu.

Menjatuhkan hati namun tetap diam

Kini, melihat batang hidungmu yang sombong itu selalu menggoreskan senyum di bibirku, Menatap matamu menghasilkan getaran, entah itu apa. Hidupku absurd, aku tak lagi bisa mengatakan sesuatu tentang kamu. Kadang aku berbuat egois dengan selalu bilang tentang kelemahanmu. Tapi kenapa perasaan ini terus menonjok jantung hatiku sekan mereka tak menerima. Lain di bibir, lain di hati saat aku berpapasan denganmu. Ucapku boleh saja memunculkan kalimat yang menyebalkan, tapi hatiku terus berdayu memahami gejolak rasa. Di fase ini aku mulai jatuh cinta.

Lebih indah jika tetap ku bingkai rasa itu

Kamu mulai terlihat lembut, harum tubuhmu menyejukan hariku, keberadaanmu terasa mendekapku, Aku merasa dilindungi olehmu. Kini mataku kagum akan sosokmu, hidungku ketagihan mencium aroma parfummu. Aku jatuh hati pada Orang gila. Namun rasanya biarlah aku tetap rasakan fase fase berikutnya dengan tetap menghijabkan rasa ini di etalase hati paling dalam.



Rasanya kau tak pantas aku perjuangkan



Helai lembut ini mulai menyadarkan aku bahwa aku tidak akan pernah mampu menggenggammu. Entahlah, kenangan manis yang pernah kita lewati berdua pun rasanya enggan menyatukan lagi rasa yang dulu. Sepertinya ini ketakutanku di awal perbincangan kita. Dimana aku merasa bahwa kau sudah terlanjur fasih untuk menjatuhkan hati.  Awalnya aku bahagia dengan itu, kau mampu menjatuhkan seluruh rasamu kepadaku. Tapi ternyata aku disadarkan, oleh angin yang menari di pori pori kulitku. Kamu terlalu hebat untuk disandingkan dengan aku yang tak punya apa apa, kamu terlalu kuat. terlalu  Saat aku benar benar bahagia di dalam bingkai kemunafikan yang kau ciptakan, Lantas aku dengan lugu menari menyaksikan senyumanmu yang ternyata bukan hanya untukku
kuat untuk terus membohongiku. Kau ulur ulur hati ini, hingga aku benar benar terjun bebas dalam sumur keraguan cintamu.

Rasanya aku tidak perlu lagi berjuang menahan sesak dalam sumur kepongahanmu, harusnya aku sadar bahwa airmata tak pernah pantas mengalir karena sikapmu, aku tak perlu lagi bergulat dengan rindu, aku tak perlu lagi menahan kantuk untuk menunggu pesanmu, lagi lagi aku tak perlu untuk mencari keberadaanmu. Karena semuanya hanya aku yang melakukan dan yang lebih menyakitkan lagi bahwa kamu melakukan hal yang sama kepada dia.
Apa benar aku tak pantas? Siapa yang tak pantas? Aku atau kamu? Bila aku yang tak pantas untuk disandingkan disebelah tangan kirimu maka aku akan melepaskannya dan pergilah engkau. Aku akan tetap setia disini, setia menunggu orang yang memantaskan dirinya untuk meraih tangan kanan ku.

Ternyata selama ini aku memperjuangkan orang yang tak pernah sedikitpun memperjuangkan aku. Aku menggenggam erat tangan mu, namun kau melepaskan dan meraih tangan yang lain. Sudahkah kau puas melihat pengorbanaku yang kau sepelekan? Aku baru sadar bahwa kau tak benar benar menginginkanku. Setiap kali aku mengirimkan pesan singkat, terlalu lama aku menunggu balasanmu, dan bodohnya, aku pikir kau sedang sibuk dengan urusanmu. Tiap kali kau katakan kemerduan cinta lewat kata kata, aku lebih sering menyimpannya agar aku dapat terus tersenyum melihat pola mu yang {tidak} berjuang untukku. Tapi ternyata kau lebih suka mengakhiri pesanku tanpa kau baca sebelumnya. Kini waktu membuktikan padaku bahwa kau tak pantas untuk aku rindukan. Dari penglihatan kedua mataku, bahwasanya handpone mu tetap berada didalam penguasaan tanganmu. Dan yang lebih menyakitkan, saat kau sibuk pun kau tetap mengetikkan kata kata yang kau balas entah untuk siapa.

Aku baru mengerti, selama ini aku salah menilai kepribadianmu. Rasanya selama ini pesan singkat yang kau tunjukan hanya sebatas agar aku tak berpaling menjadi orang bodoh yang mencintaimu. Agar kau bisa mudah mendekati dan menghempaskan aku sesuai kebutuhanmu.
Maaf, Detik ini aku tak lagi menjadi orang bodoh yang merindukanmu, mencintaimu, dan menyayangimu. Lebih baik kita bangu kehidupan seperti awal lagi, dimana aku dan kamu tak saling kenal dan sapa.

Minggu, 07 April 2013

Jarak Yang Menghantarkan Aku ke Jenjang Perpisahan Kita ……

Ketika aku mulai rabun dalam kebersamaan ku dengan mu, ketika rasa bahagia sedikit menghilang di tengah senyuman hangat mu. Aku kadang tak kenal pasti tentang sedalam apa rasa yang pernah ku perjuangkan.
Dulu aku pernah menganggapmu segalanya, tapi maaf dari detik ini aku tak lagi pantas kau tunjuk sebagai orang yang mencintaimu. Dulu kau boleh bilang bahwa aku patner berjuangmu, namun kini aku hanya jadi sosok penonton yang melihatmu berjuang. Entah kamu memperjuangkan siapa.
Kita berada dalam ruang yang berbeda. Haruskah aku tetap setia dibalik kata cintamu yang bukan ditunjukan hanya untukku? Haruskah aku terus menunggu, padahal kamu lebih sering tersenyum di persimpangan jalan sebelum menemuiku? Apa harus aku tertatih menahan kantuk karena aku lebih memilih untuk merindukanmu? Sementara kamu sibuk memencet tombol handphone untuk tau keadaan orang lain?
Jarak ribuan kilometer ini mengancam kehidupanku. Aku takut bila nanti saat aku benar benar tak melihat sosok mu lagi, aku hanya bisa menangisimu dalam doa. Aku takut jika aku terlalu berharap kamu mengabulkan semua janjimu sementara kamu lebih memilih menjalani janjimu dengan yang lain. Aku takut bila rindu ini hanya satu arah, padamu. Dan kamu tak memberikan arahmu padaku.
Jika kamu pernah berkata bahwa kita akan selalu berdampingan sampai nanti kita berjalan bersama di teduhnya pelaminan, kadang membuatku ingin terus memperjuangkan rasa ini. Tetap aku pertahankan, walau aku tau rasa itu memang kian memudar. Bila kamu pernah berkata bahwa, aku sosok ibu dari anak anak mu kelak, kadang aku ingin berlari mengejarmu, dan mulai katakan lagi bahwa aku masih mencintaimu. Tapi rasanya tak mungkin, energi ku telah terkupas habis saat aku bertahan melihatmu bahagia dengan yang lain. Jalanmu telah jauh walau aku tau bahwa pandanganmu tetap untukku. Tapi aku sulit berlari, aku tak mampu berteriak. Aku kehabisan akal dan separuh nyawaku.
Mungkin kita tak pernah ditakdirkan untuk bersama, kita hanya dipertemukan untuk mengambil pelajaran saja. Jarak ribuan kilometer ini terlalu sulit didekatkan. Padahal aku sering bergemuruh menahan rindu setiap malam. Aku akan menjauhimu agar kamu bebas memilihnya. Tapi untuk saat ini aku acuh bukan berarti aku tak rindu, Aku hanya sekedar tak cinta. Aku tak cinta “moment” ini, saat kau benar benar jauh dan aku menjauhimu. Aku hanya ingin kamu tau bahwa rasa ini memudar bukan karena aku tak lagi menyayangimu. Tapi karena aku tau semua kebohongan tentang kita dan kadang jaraklah yang jadi alasannya.

Senin, 11 Maret 2013

Pacaran Menurut Islam





Selain artikel dari Mubarok tadi, saya juga tergerak untuk memposting artikel dari Untung Supriyanto (http://untungsupriyanto.tripod.com/id8.html) yang secara garis besar bahwa Pacaran sangat tidak di butuhkan dalam islam. Selamat membaca ........




Islam Kok Pacaran
oleh Aliman Syahrani

Soal pacaran di zaman sekarang tampaknya menjadi gejala umum di kalangan kawula muda. Barangkali fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan, kisah-kisah asmara, harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk bertukar cerita dan berbagi rasa.

Selama ini tempaknya belum ada pengertian baku tentang pacaran. Namun setidak-tidaknya di dalamnya akan ada suatu bentuk pergaulan antara laki-laki dan wanita tanpa nikah.

Kalau ditinjau lebih jauh sebenarnya pacaran menjadi bagian dari kultur Barat. Sebab biasanya masyarakat Barat mensahkan adanya fase-fase hubungan hetero seksual dalam kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta monyet), datang (kencan), going steady (pacaran), dan engagement (tunangan).

Bagaimanapun mereka yang berpacaran, jika kebebasan seksual da lam pacaran diartikan sebagai hubungan suami-istri, maka dengan tegas mereka menolak. Namun, tidaklah demikian jika diartikan sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cinta, sebagai alat untuk memilih pasangan hidup. Akan tetapi kenyataannya, orang berpacaran akan sulit segi mudharatnya ketimbang maslahatnya. Satu contoh : orang berpacaran cenderung mengenang dianya. Waktu luangnya (misalnya bagi mahasiswa) banyak terisi hal-hal semacam melamun atau berfantasi. Amanah untuk belajar terkurangi atau bahkan terbengkalai. Biasanya mahasiswa masih mendapat kiriman dari orang tua. Apakah uang kiriman untuk hidup dan membeli buku tidak terserap untuk pacaran itu ?

Atas dasar itulah ulama memandang, bahwa pacaran model begini adalah kedhaliman atas amanah orang tua. Secara sosio kultural di kalangan masyarakat agamis, pacaran akan mengundang fitnah, bahkan tergolong naif. Mau tidak mau, orang yang berpacaran sedikit demi sedikit akan terkikis peresapan ke-Islam-an dalam hatinya, bahkan bisa mengakibatkan kehancuran moral dan akhlak. Na’udzubillah min dzalik !

Sudah banyak gambaran kehancuran moral akibat pacaran, atau pergaulan bebas yang telah terjadi akibat science dan peradaban modern (westernisasi). Islam sendiri sebagai penyempurnaan dien-dien tidak kalah canggihnya memberi penjelasan mengenai berpacaran. Pacaran menurut Islam diidentikkan sebagai apa yang dilontarkan Rasulullah SAW : "Apabila seorang di antara kamu meminang seorang wanita, andaikata dia dapat melihat wanita yang akan dipinangnya, maka lihatlah." (HR Ahmad dan Abu Daud).

Namun Islam juga, jelas-jelas menyatakan bahwa berpacaran bukan jalan yang diridhai Allah, karena banyak segi mudharatnya. Setiap orang yang berpacaran cenderung untuk bertemu, duduk, pergi bergaul berdua. Ini jelas pelanggaran syari’at ! Terhadap larangan melihat atau bergaul bukan muhrim atau bukan istrinya. Sebagaimana yang tercantum dalam HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas yang artinya: "Janganlah salah seorang di antara kamu bersepi-sepi (berkhalwat) dengan seorang wanita, kecuali bersama dengan muhrimnya." Tabrani dan Al-Hakim dari Hudzaifah juga meriwayatkan dalam hadits yang lain: "Lirikan mata merupakan anak panah yang beracun dari setan, barang siapa meninggalkan karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman sempurna hingga ia dapat merasakan arti kemanisannya dalam hati."

Tapi mungkin juga ada di antara mereka yang mencoba "berdalih" dengan mengemukakan argumen berdasar kepada sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Abu Daud berikut : "Barang siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, atawa memberi karena Allah, dan tidak mau memberi karena Allah, maka sungguh orang itu telah menyempurnakan imannya." Tarohlah mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai tali iman yang kokoh, yang nggak bakalan terjerumus (terlalu) jauh dalam mengarungi "dunia berpacaran" mereka. Tapi kita juga berhak bertanya : sejauh manakah mereka dapat mengendalikan kemudi "perahu pacaran" itu ? Dan jika kita kembalikan lagi kepada hadits yang telah mereka kemukakan itu, bahwa barang siapa yang mencintai karena Allah adalah salah satu aspek penyempurna keimanan seseorang, lalu benarkah mereka itu mencintai satu sama lainnya benar-benar karena Allah ? Dan bagaimana mereka merealisasikan "mencintai karena Allah" tersebut ? Kalau (misalnya) ada acara bonceng-boncengan, dua-duaan, atau bahkan sampai buka aurat (dalam arti semestinya selain wajah dan dua tapak tangan) bagi si cewek, atau yang lain-lainnya, apakah itu bisa dikategorikan sebagai "mencintai karena Allah ?" Jawabnya jelas tidak !

Dalam kaitan ini peran orang tua sangat penting dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya terutama yang lebih menjurus kepada pergaulan dengan lain jenis. Adalah suatu keteledoran jika orang tua membiarkan anak-anaknya bergaul bebas dengan bukan muhrimnya. Oleh karena itu sikap yang bijak bagi orang tua kalau melihat anaknya sudah saatnya untuk menikah, adalah segera saja laksanakan.
Dikutip dari: http://www.indomedia.com/bpost/012000/24/opini/resensi.htm

Pacaran Dalam Islam


Saya sudah membanya banyak artikel, yang diantaranya artikel dari blog "Mubaroque al-Mulk" Subhanallah, ternyata pacaran yang selama ini sudah menjadi tradisi anak remaja baik yang bertempat tinggal di ibu kota maupun di daerah itu haram adanya. Kenapa? Coba baca dan pahami rantaian kata yang saya copy dari blog beliau.




Bagaimana Pacaran Menurut Islam
Oretan Mubarok #4

Pada pembahasan sesion ini kita akan mengangkat masalah pacaran. Pacaran yang sudah merupakan fenomena mengejala dan bahkan sudah seperti jamur dimusim hujan menjadi sebuah ajang idola bagi remaja . Cinta memang sebuah anugerah, cinta hadir untuk memaniskan hidup di dunia apalagi rasa cinta kepada lawan jenis, sang pujaan hati atau sang kekeasih hati menjadikan cinta itu begitu terasa manis bahkan kalo orang bilang bila orang udah cita maka empedu pun terasa seperti gula. Begitulah cinta, sungguh hal yang telah banyak menjerumuskan kaum muslimin ke dalam jurang kenistaan manakala tidak berada dalam jalur rel yang benar. Mereka sudah tidak tahu lagi mana cinta yang dibolehkan dan mana yang dilarang.


Kehidupan seorang muslim atau muslimah tanpa pacaran adalah hambar, begitulah kata mereka. Kalau dikatakan nggak usah kamu pacaran maka serentak ia akan mengatakan " Lha kalo nggak pacaran, gimana kita bisa ngenal calon pendamping kita ?". kalo dikatakan pacaran itu haram akan dikatakan, " pacaran yang gimana dulu.". Beginilah keadaan kaum muda sekarang, racun syubhat, dan racun membela hawa nafsu sudah menjadi sebuah hakim akan hukum halal-haram, boleh dan tidak. Tragis memang kondisi kita ini, terutama yang muslimah. Mereka para muslimah kebanyakan berlomba-lomba untuk mendapatkan sang pacar atau sang kekasih, apa sebabnya, " Aku takut nggak dapat jodoh ". Muslimah banyak ketakutannya tentang calon pendamping, karena mereka tahu bahwa perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 1 : 5. Tapi apakah jalan pacaran sebagai penyelesaian ? Jawabnya Tidak. Bagaimana bisa, kita ikuti selengkapnya pembahasan ini sebagai berikut, ( diambil dari buku Pacaran dalam Kacamata Islam karya Abdurrahman al-Mukaffi)
Dikatakan beliau bahwa pacaran dikategorikan sebagai nafsu syahwat yang tidak dirahmati oleh Allah, karena ketiga rukun yang menumbuhkan rasa cinta menyatu di luar perkawinan. Hal ini dilakukan dengan dalih sebagai suatu penjajakan guna mencari partner yang ideal dan serasi bagi masing-masing pihak. Tapi dalam kenyataannya masa penjajakan ini tidak lebiih dimanfaatkan sebagai pengumbaran nafsu syahwat semata-mata, bukan bertujuan secepatnya untuk melaksanakan perkawinan
Hal ini tercermin dari anggapan mereka bahwa merasakan ideal dalam memilih partner jika ada sifat-sifat sebagai berikut :
1. Mereka merasa beruntung sekali jika selalu dapat berduaan, dan berpisah dalam waktu pendek saja tidak tahan rasanya. Dan keduanya merasa satu sama lain saling memerlukan.
2. Mereka merasa cocok satu sama lainnya. Karena segala permasalahan yang sedang dihadapi dan dirasakan menjadi masalah yang perlu dicari pemecahannya bersama. Hal ini dimungkinkan karena mereka satu dengan lainnya merasa dapat mencapai saling pengertian dalam seluruh aspek kehidupannya.
3. Mereka satu sama lain senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk menuruti kemauan sang kekasih. Hal ini dimungkinkan karena perasaan cinta yang telah tumbuh secra sempurna dengan pertautan yang kuat.
Tapi tanpa disadari, pacaran itu sendiri telah melambungkan perasaan cinta maki tinggi. Di sisi lain pacaran menjurus pada hubungan intim yang merusak cinta, melemahkan dan meruntuhkannya. Karena pada hakekatnya hubungan intim dalam pacaran adalah tujuan yang hendak dicapai dalam pacaran. Oleh karena itu orang yang pacaran selalu mendambakan kesyahduan. Dengan tercapainya tujuan tersebut kemungkinan tuntutannya pun mereda dan gejolak cintanya melemah. Hingga kebencian menghantui si bunga yang telah layu, karena si kumbang belang telah menghisap kehormatan secara haram.
Tak ubahnya seperti apa yang dinginkan oleh seorang pemuda untuk memadu cinta dengan dara jelita kembang desanya. dalam pandangannya sang dara tampak begitu sempurna. Higga kala itu pikiran pun hanyut, malam terkenang, siang terbayang, maka tak enak, tidur pun tak nyenyak, selalu terbayang si dia yang tersayang. Hingga tunas kerinduan menjamur menggapai tangan, menggelitik sambil berbisik. Bisikan nan gemulai, tawa-tawa kecil kian membelai, canda-canda hingga terkulai, karena asyik, cinta pun telah menggulai. Menggulai awan yang mengawang, merobek cinta yang tinggi membintang, hingga luka mengubur cinta.
Bagaimana pandangan Ibnu Qoyyim tentang hal ini ? Kata Ibnu Qoyyim, " Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta. Malah, cinta diantara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan. Karena bila keduanya telah merasakan kenikmatan dan cita rasa cinta, tidak boleh tidak akan timbul keinginan lain yang tidak diperoleh sebelumnya. "
" Bohong !" Itulah pandangan mereka guna membela hawa nafsunya yang dimurkai Allah, yakni berpacaran. Karena mereka telah tersosialisasi dengan keadaan seperti ini, seolah-olah mengharuskan adanya pacaran dengan bercintaan secara haram. Bahkan lebih dari itu mereka berani mengikrarkan, bahwa cinta yang dilahirkan bersama dengan sang pacar adalah cinta suci dan bukan cinta birahi. Hal ini didengung-dengungkan, dipublikasikan dalam segala bentuk media, entah cetak maupun elektronika. Entah yang legal maupun ilegal. Padahal yang diistilahkan kesucian dalam islam adalah bukanlah semata-mata kepemudaan, kegadisan dan selaput dara saja. Lebih dari itu, kesucian mata, telinga, hidung, tangan dan sekujur anggota tubuh, bahkan kesucian hati wajib dijaga. Zinanya mata adalah berpandangan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, zinanya hati adalah membayangkan dan menghayal, zinannya tangan adalah menyentuh tubuh wanita yang bukan muhrim. Dan pacaran adalah refleksi hubungan intim, dan merupakan ring empuk untuk memberi kesempatan terjadinya segala macam zina ini.
Rasulullah bersabda,
" Telah tertulis atas anak adam nasibnya dari hal zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tak dapat tidak. Zinanya mata adalah melihat, zina telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berkata, zina tangan adalah menyentuh, zina kaki adalah berjalan, zina hati adalah ingin dan berangan-angan. Dibenarkan hal ini oleh kelaminnya atau didustakannya."

B.J Habibie

Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie dilahirkan di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada tanggal 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda dan membaca ini dikenal sangat cerdas ketika masih menduduki sekolah dasar, namun ia harus kehilangan bapaknya yang meninggal dunia pada 3 September 1950 karena terkena serangan jantung saat ia sedang shalat Isya.

Tak lama setelah ayahnya meninggal, Ibunya kemudian menjual rumah dan kendaraannya dan pindah ke Bandung bersama Habibie, sepeninggal ayahnya, ibunya membanting tulang membiayai kehidupan anak-anaknya terutama Habibie, karena kemauan untuk belajar Habibie kemudian menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.

Karena kecerdasannya, Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk di ITB (Institut Teknologi Bandung), Ia tidak sampai selesai disana karena beliau mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan kuliahnya di Jerman, karena mengingat pesan Bung Karno tentang pentingnya Dirgantara dan penerbangan bagi Indonesia maka ia memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH)Ketika sampai di Jerman, beliau sudah bertekad untuk sunguh-sungguh dirantau dan harus sukses, dengan mengingat jerih payah ibunya yang membiayai kuliah dan kehidupannya sehari-hari. Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1955 di Aachean, 99% mahasiswa Indonesia yang belajar di sana diberikan beasiswa penuh. Hanya beliaulah yang memiliki paspor hijau atau swasta dari pada teman-temannya yang lain Musim liburan bukan liburan bagi beliau justru kesempatan emas yang harus diisi dengan ujian dan mencari uang untuk membeli buku. Sehabis masa libur, semua kegiatan disampingkan kecuali belajar. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, mereka; lebih banyak menggunakan waktu liburan musim panas untuk bekerja, mencari pengalaman dan uang tanpa mengikuti ujian.
Beliau mendapat gelar Diploma Ing, dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 dengan predikat Cumlaude (Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5, Dengan gelar insinyur, beliau mendaftar diri untuk bekerja di Firma Talbot, sebuah industri kereta api Jerman. Pada saat itu Firma Talbot membutuhkan sebuah wagon yang bervolume besar untuk mengangkut barang-barang yang ringan tapi volumenya besar. Talbot membutuhkan 1000 wagon. Mendapat persoalan seperti itu, Habibie mencoba mengaplikasikan cara-cara kontruksi membuat sayap pesawat terbang yang ia terapkan pada wagon dan akhirnya berhasil.

Setelah itu beliau kemudian melanjutkan studinya untuk gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean kemudian Habibie menikah pada tahun 1962 dengan Hasri Ainun Habibie yang kemudian diboyong ke Jerman, hidupnya makin keras, di pagi-pagi sekali Habibie terkadang harus berjalan kaki cepat ke tempat kerjanya yang jauh untuk menghemat kebutuhan hidupnya kemudian pulang pada malam hari dan belajar untuk kuliahnya, Istrinya Nyonya Hasri Ainun Habibie harus mengantri di tempat pencucian umum untuk mencuci baju untuk menhemat kebutuhan hidup keluarga. Pada tahun 1965 Habibie mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan penilaian summa cumlaude (Sangat sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.